Sejarah Desa Tondangow

1 Situasi dan Kondisi rakyat Minahasa menjelang abad-18

Dikala Minahasa sedang dikuasai oleh kompeni Hindia Belanda yang pada waktu itu dipegang oleh seorang Residen George Fredrik Durr. Pemerintah Belanda menciptakan berbagai tekanan kepada penduduk Minahasa untuk memproduksi beras demi kepentingan pasukan Belanda. Sementara itu sedang terjadi perang antara rakyat Minahasa melawan Belanda (yang bersekongkol dengan tentara Ternate, Spanyol, dan Bolaang Mongondow ). Rakyat Minahasa di bawah pimpinan Tonaas Supit, Paat dan Lontoh banyak mengalami penderitaan/kekalahan dan kerugian materi, yang paling tragis adalah terjadi perang antara Walak dan Walak akibat adanya taktik adu domba yang dilancarkan oleh VOC. Dengan situasi yang demikian, company menempatkan di Manado seorang Residen sebagai pendamai, yaitu Residen Schier Steip.

2 Berdirinya Desa Tendangow 1785 detung

Pada tahun 1785, datang dari ibukota Walak Sarongsong, rombongan keluarga yang dipimpin oleh Tonaas Mandey, untuk membangun pemukiman diperbatasan dengan Kasuratan Kec. Remboken. Dalam perjalanan tersebut ketika matahari sudah hampir terbenam, ternyata mereka masih ditengah jalan sehingga Tonaas Mandey meminta untuk berjalan lebih cepat lagi "zangow" katanya berkali-kali, maksudnya melangkahlah panjang-panjang, agar mereka segera tiba ditempat yang ingin dibuat perkampungan. Setelah tiba ditempat tujuannya maka disitulah dan saat itulah mereka menyepakati menamakan negeri barunya "TOU ZANGOW" sebab penduduknya telah berjalan bergesa-gesa dengan langkah kaki panjang-panjang.

Nama TONDANGOW pun versi lainnya berasal dari kata LIMANGOW, atau "ZIMOU" karena orang-orang itu telah berjalan jauh-jauh. LIMANGOW ini juga berarti melebar atau sejenis pohon yang dinamai ZANGOW, yang ketika itu tumbuh dengan rindangnya di pemukiman tersebut. Lokasi pemukiman Tondangow yang pertama berada dibukit yang dinamai (hingga kini) TONDANGOW". Dari pemukiman ini danau Linow sudah dapat dilihat (tembo), karena berada dibagian bawah. Luas wilayah Tondangow ketika itu sampai di Kasuratan dan mencakup sebagian Danau Linow yang menjadi sumber mata pencaharian utama penduduk Tondangow saat itu. Ikan- ikan yang ditangkap penduduk di danau Linow adalah komo, sayok potot, sayok lambot, lumolontik, limunus, dll yang konon tidak ada ditempat lain, hanya khas danau itu. Komo biasanya dibuat pepes (woku) atau dibuat perkedel. Lalu karena pemukiman di bukit Tondangow tidak strategis, dimana pemukimannya tidak dapat meluas, serta mengalami kesulitan air bersih, lagipula banyak sumber air belerang didekatnya, maka Tonaas Mandey membawa rombongan penduduk pindah kearah selatan.

Versi lain asal tercetusnya "ZANGOW" bersumber ketika kejadian pemindahan itu. Dituturkan bahwa sebelum pemilihan ini terjadi, pada malam hari mereka melihat seperti lampu diarah selatan, yang sangat indah dipandang, tepat berada ditengah ( yaitu di Tondangow sekarang). Setelah diteliti ternyata itulah yang disebut kayu SOLO (kayu Damar) yang dituturkan juga bahwa ketika pemindahan karena telah malam maka Tonaas Mandey mematok kayu Damar yang dipegangnya untuk membuat pondok tepatnya kini berada di tengah-tengah desa. Sungai dan mata air yang mengalir di tempat tersebut di namai "MANDEY untuk mengenang Tonaas Mandey.

Versi terakhir yang berkembang adalah Tonaas Randang Wawoh yang memimpin Tondangow setelah Tonaas Mandey. Ketika mereka pindah pada tahun 1814 dari bukit Tondangow maka dengan langkah-langkah panjang "ZANGOW" mereka tiba didekat satu batang pohon Damar yang amat besar dan rindang yang memiliki sumber mata air. Pohon tersebut menghasilkan buah yang disebut SOLO dan digunakan untuk lampu penerangan. Disitulah penduduk membangun pemukiman yang mereka namakan TONDANGOW dari kata "TOU = ORANG dan ZANGOW = LANGKAH PANJANG.

Pengganti Tonaas Wandang Wawoh sebagai kepala Tondangow adalah Lambertus Wawoh kemudian karena Tondangow semakin penting maka pada tahun 1875, Mayoor Zakarias Waworuntu sebagai kepala Distrik Sarongsong saat itu mengirim keluarga dekatnya yakni Karel Zacharias Waworuntu menggantikan Lambertus Wawoh Praktis Karel Zacharias Waworuntu tercatat sebagai Hukum Tua Tondangow yang pertama (kemanakan Mayoor Zalign sendiri). Ayah Karel Zacharias Waworuntu adalah Yohanis Waworuntu yang menjabat hukum kedua Order Distrik Sarongsong tahun 1854-1879,

Di jaman Karel Zacharias Waworuntu maka administrasi mulai ditata, pembangunan di giatkan seperti perbaikan jalan dalam bentuk sederhana. Dan juga membuka Sekolah Rakyat (SR).


3 Nama-nama Hukum Tua Tondangow

Karel Zacharias Waworuntu diganti berturut-turut oleh:

1. Langoong Waworuntu (1925-1927)

2. Thomas Kekung (1927-1929)

3. Apeles P. Rompis (1929-1950)

4. Jon A Wawoh (1950-1065)

5. Hanoch Kekung (1965-1968)

6. Alexius H. Rompis (1968-1985)

7. Arnold Mengko (pejabat 1985-1986)

8. Alexius H. Rompis (1986 hingga meninggal 1987)

9. Betsael Pongoh (pejabat 1987-1988)

10. Hendrik H. Pongoh (1988 hingga meninggal 1992)

11. Alfius Rompis (pejabat 1992-1993)

12. Ram N. Pongoh (1993-2002)

13. Tamboto Kaligis  (2002-2007

14. Tamboto Kaligis (pejabat 2008 hingga....

15.Tamboto Kaligis (....-2017)

16. Sylvia Mawuntu (2017-2019)

17. Lovery Eldi Manembu (2019-2021)

18. Sweetly N. Posuma (2021 hingga Sekarang.